Keluarga Remaja Islam Masjid Salman ITB Gelar Talkshow Jurnalistik

Panggung Talkshow
Mahab Adib Abdillah (kanan) tengah berbagi pengalaman masa mudanya di dunia jurnalistik dalam acara Brave yang digagas oleh Karisma ITB, Sabtu (9/4) di Gedung Serba Guna Masjid Salman ITB. (Foto : Thoriq Ibrahim).

 

Bandung, (KS) – Keluarga Remaja Islam Masjid (Karisma) Salman ITB mengadakan talkshow bertemakan jurnalistik pada Sabtu (9/3) di Gedung Serba Guna Masjid Salman ITB. Acara yang  diikuti oleh remaja-remaja dari berbagai sekolah ini  merupakan salah satu dari rangkaian acara Creative Exhibition yang berjudul Brave.

Pembicara dari acara ini adalah Mahab Adib Abdillah, seorang sociopreneur juga penulis novel “Ramadhan Terakhir Ludwig”. Serta Mega Liani Putri, Mahasiswi Teknik Lingkungan ITB yang juga seorang  reporter Badan Pers Mahasiswa di kampusnya. Mereka berbagi pengalaman mereka saat pertama kali memasuki dunia tulis-menulis, apa arti kata menulis bagi mereka, apa pentingnya kegiatan menulis, hingga teknik-teknik dan aturan dalam menulis.

“Setiap hari senin itu saya jadi artis kalau di sekolah, mereka pada baca tulisan saya di media.” ujar Adib, sapaan akrab Mahab, saat bercerita pengalamannya menjadi wartawan pelajar di Sriwijaya Post  semasa di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Adib juga mendirikan komunitas majalah sekolah di sekolahnya untuk mendorong orang-orang yang berbakat menulis agar bisa menghasilkan sesuatu. Beliau juga menerangkan bahwa penulis itu memiliki 2 penyakit utama. Yaitu mentok dan enggan dikritik. “Ketika mentok itu, penulis harus punya deadline.” ujar Adib.

Menurutnya, untuk mengatasi mentok  harus membuat deadline yang mendesak diri  dan sering membaca untuk memperluas wawasan.

Adib pun menerangkan, untuk menjadi penulis  harus mengutamakan compassion atau cinta kasih sayang ketimbang passion atau keinginan semata. “Coba kalau kalian udah cinta sama nulis, pasti hujan badai pun kalian bakal dateng ke acara ini,” ucapnya.

Sementara bagi Mega, menulis merupakan hal yang bermakna jika tulisan kita dapat dibaca dan bermanfaat bagi orang lain. “Percaya dirilah kalian untuk mempublikasikannya, karena sebuah tulisan itu sayang jika tidak bisa dibaca oleh orang lain,” ujar Mega.

Salah satu tantangan yang pernah dihadapinya dalam menulis adalah ketika Mega menulis tulisan yang berisi kritik.  Menurutnya, menulis kritik tidak bisa hanya didasari oleh angan-angan atau opini pribadi saja. “Tetapi kita harus mencari data-data dan pendapat ahli yang mendukung opini kita agar kita memiliki kekuatan yang cukup untuk mengkritik suatu hal,” kata Mega mengakhiri. (Thoriq I.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s